Roman Picisan

Saat kehidupan berada di ujung tanduk, cinta itu datang dengan rona muka berkilau kemerahan Sayang seribu sayang, cinta itu kemudian pulang dengan wajah pucat pasi, seperti bulan di siang hari Alunan desir ombak yang tertayang senja itu menyadarkan sukma kami bahwa yang terkisah dalam roman picisan benar-benar nyata Cinta tak selamanya harus memiliki. Advertisements Continue reading Roman Picisan

Teman Melainkan Keluarga

Dua-tiga purnama berlalu. Luapan gembira akan pesta perpisahan itu tetap berkumandang di jiwaku. Dalam hening di setiap doa senja ku selalu berharap masa mudaku selalu hangat dibungkus keceriaan. Sehingga hidupku ibarat sari bunga mekar bersemi dalam kelopaknya dan mengusik kupu-kupu kecil. Sudah kulalui perang perebutan nikmat dan sakit, damai dan gaduh yang merata di lubuk rasaku. Pada akhirnya ku sadar, aku tidak memiliki teman melainkan … Continue reading Teman Melainkan Keluarga

Dia Adalah

Dia hanyalah seorang pria biasa Seniman paruh waktu tanpa latar belakang jurnalistik atau apapun yang berbau itu Kenapa berpuisi? Karena dia masih percaya bahwa cinta bukan hanya sebatas paha, dada dan harta belaka Bukan pula terobsesi menemani para permaisuri yang sedang gundah sendiri Yang masih suka bermain hati dan berbagi sedikit rejeki untuk memuaskan birahi Dia adalah suka duka yang tak akan kau ceritakan pada … Continue reading Dia Adalah

Rahasia

Ada saat deru nafasmu terhenti di lintasan leher kendiku Lalu jemarimu diam-diam menyelinap di lipatan saku bobak demi menguak rahasia yang bersemayam di dalamnya Rahasia bukan lagi rahasia melainkan suatu misteri Namun sayang terlanjur meleleh dalam ingatan terdalam Saat ia tidak sudi lagi menjadi cinta yang di sia – siakan Untuk kesekian kalinya. Continue reading Rahasia

Bibir

Aku sangat menyukai lekuk daun telingamu Sekalipun ada jejak kekasihmu di sana Jangan kau ajarkan dia tentang rahasia Beri saja sedikit kesenangan Biarkan gaduh meruntun tilas kecupan Bibir yang mulai berlayar Raga yang perlahan berombak Rindu yang lesap, dilumat resah Sejauh apapun bibirnya mahir menjelajahi sunyi Tetap aku yang berada di belakangmu Berbisik… Sudah pagi sayang. Continue reading Bibir

Kuota

Tak ada yang mampu mengetuk pintu di ketinggian hatimu Gubuk dan rumah petak di bukit acuh tak beralamat Surat-surat berkarat yang kehilangan nyawa, parahnya lagi kehilangan pembaca Kembali ke kampung halaman seperti wisata di kota tua Lama kuota telah habis masa idah Hanya satu rumah yang tersisa Kuseret langkah menuju jendela yang bercelah Lagi-lagi dia Satu di antara sejuta. Continue reading Kuota