Pejalan

Mungkin ini kelemahanku. Segelas pinacolada menggetarkan sesak dada yang terhimpit kesedihan nan enggan. Denting gelas buncit di malam penghabisan itu sepotong hati jatuh pada pada gadis berbibir tipis beralis gerigis. Kota ini sungguh sepi dan aku bergegas memanggil taksi. Saat pagi menjemput, purnama kasihan pada seorang pengembara penuh duka, yang kerap jatuh cinta pada perempuan yang sama, jiwa yang sama. Terkadang hujan bertanya apa ia lelah menjadi penyendiri. Jawabnya ada di pigura engkau dan kekasihmu. Baginya, engkau air mata yang tergelincir di kedua pipinya, wajah pualam yang menghimpit sesak dadanya. Mengingatmu, membuat dirinya berpikir, beberapa hasrat lagi harus dilewati, hingga terseduh kopi di pagi hari, dihidangkan oleh senyum manismu, abadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s