Dia Adalah

Dia hanyalah seorang pria biasa Seniman paruh waktu tanpa latar belakang jurnalistik atau apapun yang berbau itu Kenapa berpuisi? Karena dia masih percaya bahwa cinta bukan hanya sebatas paha, dada dan harta belaka Bukan pula terobsesi menemani para permaisuri yang sedang gundah sendiri Yang masih suka bermain hati dan berbagi sedikit rejeki untuk memuaskan birahi Dia adalah suka duka yang tak akan kau ceritakan pada … Continue reading Dia Adalah

Mama

Mataku melotot mengurutkan setiap sushi yang berputar di atas conveyor belt di Kaitenzushi itu. Aku kurang menyenangi masakan Jepang. Tapi malam ini beda, aku makan bareng teman-teman satu pelatihan. Iya, hari ini hari terakhir kami berkumpul di satu kelas pelatihan setelah 10 hari bersama-sama senasib seperjuangan. Saat mataku tertuju pada satu hikarimono, nampak samar-samar di seberang meja sosok cewek cantik berambut panjang. Dia nampak serius … Continue reading Mama

Malam Ini Masih Tentang Kamu

Malam ini masih tentang kamu dan catatan kecilku Mengukur rentang-rentang sisi bahumu Aku mulai jatuh cinta kepada sepasang belikat yang kaupunya Sejak kau mengatupkan bibir tentang cinta dan luka Kau duduk sendiri di meja itu Kumelangkah menghampiri dirimu Di saat yang sama langkah lain menuju mejamu Dan laki laki itu pun mulai bercerita Kau tertawa kau tergelak kau tersipu Dan tanpa disadari tanganmu pun mulai … Continue reading Malam Ini Masih Tentang Kamu

Angan Dalam Jangan

Setiap malam Jumat, ibuku selalu memanjatkan doa. Di balik mukena putih kenangan pemberian ayahku yang meninggal dunia tepat satu tahun yang lalu akibat penyakit TBC yang dideritanya. Menetes air mata di epidermis pipi wajah pualam ibuku. Doa itu selalu terdengar sangat indah. Ibu menengadahkan tangan seperti memohon, bukan mengemis. Bahkan sering ibu terbangun di sepertiga malam untuk sholat dan berdoa. Sejak kepergian ayah, ibu sekarang … Continue reading Angan Dalam Jangan

Petrichor

Aroma minyak kayu putih tercium sangat familiar saat kumasuki ruangan ini. Bangunan kamar yang dibangun sejak jaman orde lama dengan pintu kokoh yang terbuat dari kayu jati Belanda, meskipun engselnya sudah berkarat. Terpasang kipas angin yang sedang berputar ke kanan dan ke kiri serta ada secangkir kopi yang masih panas, menggeliat kepulan asap seakan menari-nari di atasnya. Aku memandang sekeliling ruangan itu. Sofa empuk dengan … Continue reading Petrichor

Bragaderen

Tasia membebaskan diri dari kamar kosnya yang menyesakkan dan berjalan-jalan pada sore hari saat gumpalan awan hitam mulai mengurung langit di atas trotoar itu. Ia berjalan menuju kota tua di jalan Braga melewati dinding-dinding kuno bangunan kuno khas eropa di Kota Bandung. Hari ini merupakan hari yang paling diingatnya, saat kekasih hatinya menikah dengan sahabatnya¬†setahun yang lalu. Di depan, Tasia melihat tanda neon hijau kecil … Continue reading Bragaderen