Bilah Asmara

Dia semprotkan parfum ke tubuhnya. Di depan cermin dia bersolek.
Kenapa melihatku seperti itu? Kamu ngga mau malam mingguan sama aku?
Laki-laki itu kikuk. Bagaimana kalau pacarmu tahu?
Sst..dia tutup bibir laki-laki itu. Pacarku beda kota. Udah jangan bahas lagi. Mau pergi ngga?
Laki-laki itu mengangguk, dengan sedikit cemas.
Mereka pun larut dalam alunan musik akustik di cafe biru. Lagu itu mengalun dengan syahdu. Terbenam mereka dalam pelukan hangat terbalut nafsu.

Ratusan kilometer dari tempat mereka berada. Seorang pria dengan tekun memintal aksara indah untuk wanita pujaannya. Yang ia tahu dia sedang ada acara keluarga. Tiba-tiba lilin di kamarnya padam. Ia terhenyak. Air matanya pun mulai mengalir. Sambil menangis bilah tajam itu menggaris nadinya sendiri.

Di ujung malam terdengar suara seorang perempuan berbisik lirih…aku ingin habiskan malam ini berdua saja denganmu…baik hidup ataupun mati.
Malam yang sempat menggumam ragu-ragu menerka rindu pun perlahan senyap. Tercerai aksara indah yang sempat terpintal. Kepulannya menguap ke langit-langit kamar.

Malaikat pun sepakat, aksara itu bukan sekedar kata-kata, melainkan cinta yang sedalam-dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s