Nona

Aku mempercepat langkah menuju kedai kopi itu. Di dalam, aku melihat sekeliling. Kamu di mana? Pikirku kamu sudah pulang. Mataku melindap sejenak, lalu terpaku di sudut bangku. Kamu duduk dan tersenyum padaku. Aku mendekat perlahan, dan kamu taruh tanganku ke pangkuanmu. Mata indahmu berkaca-kaca seolah hendak mengatakan sesuatu. Aku merasa ada sesuatu yang kamu tahan. Kamu hanya tersenyum saat kusentuh pipimu. Malam itu aku gagal paham. Tidak ada puisi lagi, saat hati kecilku menolak mengartikan senyum dan tangismu. Aku sekarang mengerti, kalau malam itu malam terakhir kamu memelukku sebagai seorang nona.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s