Pejuang Yang Terbuang

Ketika aku dan kata-kata beristirahat sejenak, bukan sepakat berpisah
Ketika aku tersadar bahwa realita lebih sakit dari puisi tersakit yang pernah kubuat sekalipun
Ketika hati harus memilih antara menahan tangis tatapan kosong anak di bawah umur dan jiwa yang tak bersalah atau menerima kenyataan bahwa kita telah terbuang

Ya, ini luka pejuang yang terbuang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s