Disleksia

Sebagian aku menyesal telah melakukan hal ini.

Namun sebagian aku tidak terima harga diri diinjak-injak.

Setiap kali aku ingin kembali, aku teringat lelaki itu.

Setiap habis air mataku, aku teringat lelaki itu.

Jeda antara tangis dan gila ada di setiap koma, seperti disleksia dalam gulana gundah.

Sekarang aku kencangkan kembali tali gantung hitam di dadaku. Aku acungkan jari tengah ke lelaki itu. Jangan lupa, di mana tembilang terentak, di situ cendawan tumbuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s